Showing posts with label kado. Show all posts
Showing posts with label kado. Show all posts

Monday, July 12, 2021

Aloha, keiki!

May the flowers bloom in every path you choose
May the leaves give you shades where'er you go
May aloha forever lingers in you

07.07.21 | Welcoming RTA

Friday, November 29, 2019

Catatan Sebelum Ganti Hari

Hai Pah! Selamat ulang tahun pertama di Kekekalan!

Pastinya bahagia disana. Nggak ada sakit penyakit, lelah tubuh, capek hati, emosi jiwa, stres kerja, tekanan sosial. Nikmat banget kayaknya. Pastinya semua penuh cinta kasih disitu. Nggak ada iri dengki, sodok kanan sodok kiri, senggol bacok, lu-gue (yang ini istilah anak metropolitan, Pah). Kayaknya nikmat banget.

Mbok yo sambil menikmati Kekekalan, bolehlah seringkali doakan kami yang masih tinggal di kefanaan ini. Biar kami lebih peduli dengan bumi ini. Kami sering lupa bahwa kami berbagi bumi ini dengan yang lain: sesama manusia, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan segala sesuatu yang ada di alam.

Kadang kami pikir: warna kulit beda, bukan sesama kami; bahasa kami beda bukan sesama kami, keyakinan kami beda, bukan sesama kami. Kadang pula kami pikir: semua tumbuhan, binatang dan segala sesuatu di alam harus kami manfaatkan untuk sebesar-besarnya kepuasan hidup kami.

Jika masih ada pohon yang bisa ditebang, kenapa harus menanam? Jika masih ada banyak air, kenapa berhemat? Jika masih ada gajah, kenapa tidak diambil gadingnya?

Manusia itu edan tenan yo, Pah? Kok nggak sadar bahwa dirinya hanya kesementaraan. Kayaknya sih memang nggak ada yang sadar. Begitu sadar, eh sudah sampe Sorga!

Wis ngono ae yo, Pah. Selamat menikmati Kekekalan!



[25.08.29]

Thursday, December 05, 2013

Kado untukku

Satu per satu kubuka bungkusan indah,
Yang tersusun rapi dibawah pohon cemara cantik disudut ruangan.
“Kain batik tulis dari Solo!”
Senyumku pun terkembang sambil membayangkan sosok pemberi kado.
“Terima kasih, Pakdhe,” sebutku dalam hati.
Kotak kedua pun kubuka.
Kukeluarkan porselin cantik yang tampak mahal.
“Tante pasti membeli ini dari Singapura!”
Bungkus demi bungkus kado pun mulai teronggok tinggi:
Anting, jam tangan, CD, buku, make up…
Senyumku pun makin melebar.
Pastilah aku ini sosok yang disayang.
Betapa semua orang memperhatikanku!
Bahagianya aku!

Mendadak aku merasa gamang.
Benarkah aku bahagia?
Berapa lama anting dan jam tangan baru dapat kubanggakan?
Sejam…sehari…sebulan?
Berapa lama make up bertahan membuatku cantik?
Tiga jam…lima jam…sepuluh jam?
Apakah yang sesaat ini mampu membuatku bahagia?
Kenapa aku tidak benar-benar bahagia?
Kenapa semua kado ini tidak cukup mengusir kuatirku…
Akan masa depanku?
Atau sekedar apa yang akan ku makan esok hari?
Kenapa aku gelisah, resah, dan tidak berdaya dengan semua yang kupunya?
Kenapa cinta dan perhatian sanak saudara dan teman terasa tidak cukup?
Kenapa aku tidak bahagia dengan diriku sendiri?

Lalu kuingat perayaan Natal penduduk desa miskin dikaki bukit.
Terlihat jelas sukacita ditiap wajah saat menyanyikan kidung Natal.
Ada pengharapan ditiap hati kala kisah Natal diperdengarkan.
Apakah yang mereka punyai tapi aku tidak miliki?
Mungkinkah itu Natal yang sebenarnya?
Bukan kado yang berisi banyak benda.
Bukan baju pesta yang cantik.
Bukan jejeran toples penuh kue.
Ya…bukan itu semua!
Aku seharusnya menyadarinya dari lama.

Ampunilah aku, Yesus.

[04-051213]